Cerpen

Nyatanya Kita Berjodoh

30 September 2021
131 views
9 min read
Nyatanya Kita Berjodoh

#2016

Jodoh ada di tangan Tuhan. Setiap orang punya jodohnya masing-masing. Itulah kata Bapakku ketika aku tanyakan padanya tentang jodoh. Aku yang sebentar lagi mau lulus SMA kira penting menanyakan hal ini kepadanya. Pertanyaan-pertanyaan tentang jodoh tak henti-hentinya aku layangkan kepadanya. "Jodoh ada di tangan Tuhan. Dia akan datang dengan sendirinya ketika sudah waktunya." Lagi-lagi itu jawaban Bapak. Aku bukannya kurang puas dengan jawaban tersebut. Tapi semenjak aku putus hubungan dengan Riana, aku betul-betul ingin lebih banyak tahu perihal jodoh.

Mengenai Riana, dia adalah kekasihku sejak aku kelas sepuluh. Dua tahun berhubungan, sudah banyak hal yang telah kita bicarakan. Terutama tentang jodoh. Kita memiliki keyakinan bahwa kita memang ditakdirkan oleh Tuhan untuk terus bersama selamanya. Obrolan kita juga terkadang sangat-sangat jauh. Seperti membahas rencana pernikahan, bahkan sudah menyiapkan nama untuk anak kita nanti.

Dua tahunku dilalui dengan sangat indah bersamanya. Riana yang cantik dan baik selalu membuatku merasa nyaman ketika aku di dekatnya. Aku betul-betul tak ingin bahkan tak pernah membayangkan jika suatu saat aku berpisah dengannya. Karna bahkan dalam tidur pun aku selalu menanti kehadirannya.

Namun, yang kukira harapan dan rencana yang kita buat selama dua tahun itu akan menjadi nyata, nyatanya harus gugur dengan rasa kecewa. Keyakinanku yang mengatakan bahwa dia adalah jodohku, kini berubah menjadi ragu. Yang kukira akulah calon suaminya, ternyata calon suami yang sebenarnya telah datang melamarnya.

Kebersamaan kita selama dua tahun itu telah berakhir. Di suatu pagi Riana datang menemuiku sambil menangis. "Ada apa Na?" kataku. Jujur aku sangat bingung, tiba-tiba dia datang lalu memelukku. "Maafkan aku Rey. Mungkin hubungan kita harus berakhir sampai ini saja. Dan mengenai harapan dan rencana kita, mungkin harus kita kubur dalam-dalam" katanya. "Kenapa Na?" "Aku dijodohkan oleh orang tuaku Rey. Dengan salah satu anak teman kerja Papaku. Dua hari yang lalu mereka datang ke rumahku" katanya dengan penuh isak.

Jujur, badanku waktu itu menjadi lemas seketika. Seakan semangat pagiku musnah secara tiba-tiba. Dan, bisaku hanya pasrah. Aku bisa apa? Semua ini sudah pasti kehendak dari Tuhan dan juga orang tua Riana. Mereka yang menjodohkan, aku tak mungkin mengekangnya. Karna bersatunya mereka sudah pasti mendapat restu dari Tuhan dan juga orang tua mereka. Jadi, secara terpaksa dan dengan rasa tak rela, pagi itu hubunganku dengan Riana resmi berakhir.

Akhirnya, aku menjalani hari-hariku tanpa adanya Riana. Rasanya sangat berbeda. Rasanya seperti tak ada lagi semangat bagiku untuk menikmati hari. Namun untungnya ada Ibu yang selalu menjadi penyemangatku dan Bapak yang dengan kata-kata saktinya mampu membuatku bangkit dari segenap masalah yang membuatku larut dalam kesedihan. Rasanya memang tak pantas bagiku untuk bersedih berkepanjangan. Aku harus mulai membiasakan diri tanpa adanya Riana. Mungkin memang benar, Riana itu memang bukan jodohku.

Sejak saat itu, aku gunakan hari-hariku untuk fokus belajar. Dan sampai akhirnya, aku diterima di salah satu Universitas di London.

#15Agustus2020

Kulangkahkan kakiku menyusuri stand-stand yang berdiri tegak mengisi lapangan kota. Ada berbagai macam stand di sana. Seperti stand makanan nusantara, bazar buku, pameran lukisan dan banyak lagi. Menurutku, ini sangat wajib bagiku untuk menghadiri Festival Kemerdekaan yang diselenggarakan oleh kotaku ini. Karna sebelum-sebelumnya aku memang pasti hadir di festival ini. Tetapi sejak aku kuliah di London, aku sudah tak pernah lagi menghadiri festival ini. Dan karna saat ini aku sedang pulang ke Indonesia, aku kira ini kesempatan bagiku sebelum aku kembali lagi ke London bulan depan untuk persiapan wisuda.

Saat aku memasuki stand pameran lukisan, kulihat banyak lukisan-lukisan yang terpajang di sana. Dari gambar yang biasa, sampai gambar yang sulit kumengerti. Sepertinya, stand ini yang paling banyak pengunjungnya, karna tempat ini yang paling ramai. Sangat ramai dan sedikit berdesakan. Namun, di tengah keramaian itu, tiba-tiba mataku menangkap sesuatu yang tak asing. Sesuatu yang membuatku bersemangat seketika. Dia adalah seseorang yang pernah menemani hidupku. Perlahan-lahan kucoba untuk menghampirinya, dan ketika semakin dekat, jantungku berdegup dengan begitu kencang.

"Riana!" kataku. Riana lalu menatap wajahku dengan wajah terkejut. Kita saling bertatap-tatapan begitu lama. Tempat yang ramai itu seakan menjadi lenggang dan sepi seketika. "Reyhan. Kamu ngapain di sini?" tanya Riana dengan wajah terkejut. Wajahnya masih sama seperti Riana yang dulu. Gaya rambutnya juga masih sama tetap sebahu. "Kamu apa kabar Na?" tanyaku. "Aku baik Rey" kata Riana sambil tersenyum. "Suamimu mana?" Tak tahu kenapa, tiba-tiba mulutku mengeluarkan pertanyaan itu. "Siapa bilang aku punya suami?" ucap Riana yang betul-betul membuatku bingung. "Aku tidak jadi menikah Rey. Ceritanya panjang. Dua bulan sebelum rencana pernikahanku digelar, tiba-tiba ada masalah yang harus membuat pernikahan itu batal."

Batal? Jadi Riana sampai saat ini masih sendiri. Jadi selama ini hatinya tidak ada yang mengisi. Jadi orang yang aku pikir adalah jodohnya ternyata juga bukan jodohnya. Jadi apakah aku masih bisa dan punya kesempatan untuk kembali dengannya? Apakah ternyata aku jodoh Riana yang sebenarnya? Apakah Riana adalah jodoh yang akan datang ketika sudah waktunya seperti yang Bapak bilang? "Jodoh ada di tangan Tuhan. Dia akan datang dengan sendirinya ketika sudah waktunya." Karna jujur, aku masih punya harapan lebih pada Riana. Aku masih punya rasa cinta yang besar kepadanya.

Sepulang dari sana aku langsung bercerita kepada ibu dan Bapak. Tentang pertemuan itu dan keinginan yang tiba-tiba muncul dalam hatiku. Aku bercerita pada mereka bahwa aku masih punya perasaan dan rasa cinta pada Riana. Aku juga memberitahu kepada mereka atas keinginanku untuk melamar Riana. Mereka tersenyum, seakan setuju atas segala rencanaku. "Nanti setelah wisuda, segera lamar dia. Bapak harap dia adalah jodoh kamu yang sebenarnya" kata Bapak. Aku sangat bahagia. Keinginanku sangat didukung oleh mereka. Ya! Aku harus buru-buru melamar Riana setelah wisuda nanti.

#23April2021

Akhirnya setelah keinginanku waktu itu. Aku betul-betul pergi melamar Riana pertengahan bulan Desember kemarin. Prosesi lamaran itu tidak begitu besar. Hanya mengundang keluarga dan kerabat terdekat. Prosesi tersebut dilaksanakan di kediaman Riana. Aku masih ingat kalimat yang Riana ucapkan ketika menerima lamaran dariku. "Bismillahirrahmanirrahim, dengan izin Allah juga restu Mama dan Papa, Insyaallah aku terima kamu sebagai calon suami aku. Dan aku berharap, kamu bisa menjadi imam yang dapat membimbing aku dan juga keluargaku menjadi lebih baik lagi." Aku melihat mata Riana seperti berkaca-kaca saat mengucapkan kalimat itu.

Dan saat ini, giliran aku yang akan mengucapkan kalimat sakral untuk menyatukan hatiku dan hati Riana secara resmi. Yaitu kalimat Ijab Kabul sebagai persyaratan agar Riana seutuhnya bisa kumiliki. Jujur, jantungku berdetak hebat tak karuan. Tubuhku tiba-tiba menjadi dingin tapi penuh keringat. Aku sangat gugup. Namun, untungnya lagi-lagi ada Ibu dan Bapak yang menyemangatiku. "Tenang, tarik nafas, keluarkan perlahan-lahan. Kamu pasti bisa Nak" kata mereka.

Akhirnya di hadapan penghulu, di hadapan Papa Riana, dan di hadapan para undangan, aku buang seluruh perasaan gugupku. Kulafalkan kalimat akad yang sudah aku hafalkan sejak satu bulan yang lalu. "Saya terima nikahnya Syiva Ariana binti H. Zaenal Habibi dengan mahar seperangkat alat shalat dan emas 2 kg dibayar tunai." "Bagaimana para saksi, sah?" "SAH!"

Dan pada akhirnya harapan dan rencana yang pernah kita buat kini benar-benar terjadi dan terlaksana. Kita bisa merayakan pesta pernikahan yang bisa dibilang cukup besar dan mewah. Sesuai mimpi kita dulu saat masih pacaran. Kita juga akhirnya dapat mengundang penyanyi favorit kita yaitu Yura Yunita. Dia tampak sedang menyanyikan lagu berjudul "Akad" dari Payung Teduh. Para tamu undangan bergiliran mengucapkan selamat kepada kita. Dari para keluarga, kerabat, bahkan seluruh teman-teman waktu SMA. Dan saat ini, semuanya benar-benar terlaksana. Tinggal menunggu kehadiran seorang bayi yang namanya juga sudah kita persiapkan sejak lama.

Aku melihat ke arah Riana yang sedang tersenyum bahagia di sampingku. Perasaan syukur dan kebahagiaan membuncah di hatiku. Aku tidak pernah menyangka bahwa aku dan Riana akan kembali bersama dan mengukir cerita yang indah seperti ini. Tuhan memang memiliki cara-Nya sendiri untuk mempertemukan jodoh yang sejati. Dan aku percaya, dengan doa, usaha, dan keikhlasan, jodoh yang sejati akan datang pada waktunya.

Kini, aku dan Riana memulai kehidupan baru sebagai suami istri. Kami saling berjanji untuk saling mencintai, menghormati, dan mendukung satu sama lain dalam segala situasi. Perjalanan kami mungkin tidak selalu mulus, tetapi dengan cinta dan keyakinan, kami yakin bisa melewati segala rintangan bersama-sama.

Dan setiap kali aku teringat kata-kata Bapak, "Jodoh ada di tangan Tuhan. Dia akan datang dengan sendirinya ketika sudah waktunya," aku semakin yakin bahwa apa yang terjadi pada kami adalah bukti dari kebesaran Tuhan. Aku bersyukur atas segala hal yang telah kami lalui, karena semua itu membuat kami semakin kuat dan menghargai arti dari sebuah pertemuan dan kebersamaan.

Terima kasih, Tuhan, atas anugerah ini. Terima kasih telah mempertemukan aku dengan Riana kembali. Semoga kami selalu diberkahi dengan kebahagiaan dan keharmonisan dalam menjalani kehidupan ini. Amin.


Lubangsa, 29 September 2021

Bagikan Tulisan Ini