Cerpen

Gema Dawai Jam Duabelas Malam

02 October 2021
243 views
6 min read
Gema Dawai Jam Duabelas Malam

Di tengah kegelapan dan kesunyian malam. Sayup-sayup melodi indah nan merdu terdengar dari pemakaman. Iramanya mendayu-dayu dan dengan hormat menembus celah-celah telinga siapa pun yang mendengarnya. Namun terkadang di antara melodi yang merdu itu terdapat suara isak tangis dari seorang wanita, merdu dan sedu. Namun, orang-orang sudah tak heran lagi dengan hal tersebut. Karena tepat setiap tahun hal itu akan terjadi berulang-ulang.

Icon Quote Icon Quote Icon Quote

Seantero rumah mendadak riuh ketika Dimas tiba-tiba teriak kesakitan sambil memegang dadanya. Seluruh keluarganya panik terhadap apa yang terjadi kepada Dimas, sebab dari sebelum-sebelumnya hal tersebut tak pernah terjadi. Mama Dimas menangis dan meminta untuk segera membawa Dimas ke rumah sakit. Lalu Ayah Dimas, Kakek Dimas dan Om Dimas mengangkat Dimas dan dibawa masuk ke dalam mobil.

Dimas adalah anak pertama dari pasangan Tarjo dan Sinta. Umurnya masih tigabelas tahun. Dimas merupakan anak yang pintar dan berprestasi di sekolahnya, maka tak heran kalau Dimas sangat disayangi oleh kedua orang tua dan juga seluruh keluarganya. Dimas anak yang periang dan selalu tersenyum, hobinya bermain biola dan bercita-cita ingin menjadi pemain biola profesional. Namun senyum Dimas kini harus hilang dan harus berhenti bermain biola setelah dirinya didiagnosa oleh dokter ada kanker di hatinya dan sudah menggerogoti seperempatnya. Jujur ini berita yang buruk bagi Dimas dan seluruh keluarganya. Dan saat ini Dimas hanya terbaring di rumah sakit berharap ada keajaiban dari Tuhan sehingga dia bisa sehat kembali.

Hari demi hari, minggu demi minggu bahkan hingga enam bulan lamanya Dimas masih saja tak bisa lepas dari dokter dan alat-alat rumah sakit. Selama enam bulan itu bukannya semakin sehat justru Dokter mengatakan bahwa kanker Dimas sudah menyebar ke organ tubuh lainnya. Hal itu membuat keluarga Dimas sepakat untuk membawa Dimas ke Singapura. Banyak hal yang harus mereka lepas demi biaya perawatan Dimas. Seperti menjual tanah dan juga barang-barang berharga lainnya. Dan untuk biaya ke Singapura mereka harus menggadaikan rumah mereka.

Di Singapura Dimas dirawat di rumah sakit yang sangat terkenal dan ditangani oleh dokter yang sudah profesional. Dan kabar baiknya, Dia sudah baikan meskipun masih belum bisa beraktivitas seperti biasa. Biasanya dia hanya jalan-jalan di taman rumah sakit menggunakan kursi roda yang didorong oleh Mamanya. Senyum Dimas perlahan-lahan sudah terbit kembali walaupun masih tak seperti senyum yang dulu.

Suatu pagi saat Dimas jalan-jalan di taman dia berbicara pada Mamanya. "Ma, Dimas kan dua bulan lagi ulang tahun," kata Dimas. "Iya kenapa sayang?" tanya Sinta. "Dimas mau ulang tahun Dimas dirayain. Dan nanti Dimas mau di ulang tahun Dimas Mama main biola untuk Dimas," katanya. "Iya sayang, pasti, apa pun pasti Mama lakuin untuk Dimas. Cepat sembuh ya sayang." Tak terasa air mata Sinta menetes membasahi pipinya.

Sebenarnya Sinta tak mempunyai bakat untuk bermain biola. Tetapi demi mengabulkan permintaan Dimas dia berusaha untuk belajar. Dia belajar melalui internet dan juga pada adiknya, seseorang yang juga mengajari Dimas bermain biola, yaitu Tante Anisa. Sinta bertanya kepada Anisa lagu kesukaan Dimas dan meminta tolong agar diajari. Selama berminggu-minggu Sinta selalu latihan bersama Anisa. Dan akhirnya dia sudah mulai bisa bermain dan menguasai satu lagu kesukaan Dimas.

Namun ada sesuatu yang sama sekali tak diharapkan terjadi. Tepat satu minggu sebelum Dimas ulang tahun. Tiba-tiba penyakit Dimas kambuh kembali. Lalu buru-buru Dimas dibawa ke ruang ICU. Seluruh keluarganya saling memanjatkan doa tak lain adalah meminta pertolongan agar Tuhan mencabut penyakit dari tubuh Dimas. Namun kehendak Tuhan berbeda dengan yang mereka minta, setelah itu dokter menyampaikan bahwa Dimas sudah tidak bisa diselamatkan.

Seluruh keluarganya terkejut dan tak percaya. Mereka saling berpelukan satu sama lain dan menangisi kepergian Dimas. Sementara Sinta masih belum bisa terima kenyataan bahwa Dimas sudah meninggal. Dia bersikeras bahwa Dimas masih bisa diselamatkan. Namun, semua itu sudah tidak mungkin, Tuhan lebih sayang kepada Dimas. Tuhan telah menjemput Dimas untuk kembali kepada-Nya.

Jenazah Dimas diterbangkan ke Indonesia dan dikubur di TPU dekat rumahnya. Seluruh keluarganya yang lain dan kerabat-kerabatnya mengantar Dimas ke tempat peristirahatan terakhirnya. Isak tangis masih terdengar di hari pemakaman Dimas. Banyak yang tak menyangka Dimas akan pergi secepat itu. Mereka takkan lagi melihat senyum Dimas yang merekah dari wajahnya.

Icon Quote Icon Quote Icon Quote

Sinta terpukul atas kepergian anaknya. Sinta jadi lebih sering menyendiri dan jarang berbicara. Tetapi dia masih ingat kalau dia punya janji pada Dimas untuk memainkan biola saat ulang tahunnya. Jadi tepat pada malam ulang tahun Dimas, dia pergi ke kuburan Dimas dan tepat pada pukul 12 dia mulai mengayunkan dan menggesek-gesekan biolanya hingga mengeluarkan irama yang merdu. Saat memainkan biola Sinta juga sambil menangis. Sejak saat itu, setiap ulang tahun Dimas dia pasti pergi ke kuburan Dimas untuk memainkan melodi biola yang merdu.


Lubangsa, 2 Oktober 2021

Bagikan Tulisan Ini